Senin, 12 Desember 2016

Shoffiyyah's Weekly Journal

Assalamualaikum Bloggers!

Masih dalam rangka mengembangkan sayap dan mencari peruntungan di dunia video blogging, ha!. Maka mulai hari ini Shoffiyyah's Weekly Journal resmi diluncurkan! Saya resmi berkomitmen untuk membuat video journal setiap minggunya. muahhaha. Yes, ini komitmen yang cukup beresiko karena saya masih tidak yakin mempunyai waktu ditengah jeritan badai disertasi dan tumpukan esai untuk membuat script video blogging yang "proper". Ah, sudahlah... target saya hanya latihan bikin video, jadi saya hanya akan mengedit video-video yang berhasil saya rekam selama seminggu, jadi tidak ada script, tidak ada konsep! :P

Minggu kemarin saya menghadiri Class size and Effective Teaching Workshop yang ternyata adalah pertemuan penerima grant dari Luverhulme Trust, jadi isinya adalah para profesor, praktisi, dan perwakilan pemerintah yang penelitiannya sudah diterapkan dalam bentuk kebijakan pemerintah dan akan menjadi rekomendasi dalam pembuatan kebijakan pendidikan nasional selanjutnya di negara masing-masing. Peserta workshop berasal dari USA, Prancis, Norway, Hongkong, dan UK dan hanya ada dua mahasiswa; saya dan teman sekelas saya, Liu. Itupun karena ditawari oleh Prof. Peter yang juga adalah supervisor disertasi kita berdua. Saya benar-benar merasa kecil sekali, mirip seperti debu dan remah-remah roti.

Teman saya, Liu, sampai bilang begini "how come we're this lucky?! perhaps because we have beautiful names? that's how Prof. Peter chose us?" muahaha. Saya juga masih terheran-heran mengapa dari 8 mahasiswa bimbingannya tahun ini Prof. Peter memilih saya dan Liu. Liu mungkin masih masuk akal karena teman saya ini berasal dari Hongkong sehingga workshop ini akan sangat bermanfaat untuk menentukan arah disertasinya dan membuat networking. Tapi saya? Bahkan tidak ada yang tahu Indonesia itu dimana sampai saya menyebut BALI. Selama dua hari workshop kemarin saya tidak bisa berhenti mengucap syukur, meskipun setelahnya saya merasa pendidikan di Indonesia benar-benar masih punya banyak PR.

Oh dan kemarin saya juga "cheating day" buka facebook (:P). Membaca komentar-komentar di facebook membuat saya merasa menghapus aplikasi facebook dari handphone saya adalah keputusan yang tepat meskipun saya masih belum bisa menghapus akun sepenuhnya karena keluarga dan teman-teman saya di sana semua. muahahha. Tapi saya jadi teringat dengan sebuah hadis yang dibahas di kajian minggu ini tentang berkata baik atau diam, "Barang siapa yang beriman kepada Allah hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam (HR. Bukhari dan Muslim)".

Saya sedih sekali melihat bagaimana mudahnya kita sekarang ini terpancing untuk menyebarkan kebencian, tanpa sadar mungkin saja apa yang kita sebarkan ternyata adalah kepentingan politis semata. Karena jika yang kita bela adalah agama ataupun hal lainnya yang kita percayai sebagai sebuah kebenaran, tentulah yang kita pilih adalah cara-cara yang baik, perkataan-perkataan yang baik. Ah.. selain banyak PR, ternyata kita juga harus banyak-banyak berdoa semoga Allah melindungi dan melembutkan hati-hati kita. La taghdob walakal jannah... La taghdob walakal jannah.. jangan marah, maka bagimu syurga! :)

Last but not least, here you go... my very first weekly video journal!



Semoga Bermanfaat,
Penggenggam Hujan



Sabtu, 03 Desember 2016

Hello December! (Already??)


"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan agar kamu merasakan sebagian dari rahmat-Nya dan agar kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) agar kamu dapat mencari sebagian dari karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur"
(Q.S. Ar-Rum: 46)


Assalamualaikum Bloggers!
Tidak terasa sudah memasuki bulan Desember ya. Ini artinya semester pertama akan segera berakhir dan deadline-deadline tugas pun mulai menyapa (Hai?). Liburan akhir tahun direncanakan sebagai waktu bersemedi mengerjakan essay dan persiapan ujian untuk mahasiswa master di jurusan saya. Hufft. Rencana liburan saya sukses dibatalkan :(

Awalnya saya memilih kuliah di Inggris karena program master nya yang hanya setahun, lumayan hemat umur kan. Tapi setelah di sini saya justru berharap programnya menjadi dua tahun. haha. Karena saya roaming sekali saat di bulan pertama kuliah saya sudah diminta untuk memikirkan dan memilih judul disertasi.

Saya diminta untuk memilih 5 topik dari 3 supervisor yang berbeda yang ada di list Dissertation Husting. Sebenarnya kita bisa mengajukan topik disertasi sendiri tapi lebih disarankan untuk memilih topik yang ada. Setelah form pilihan topik disertasi disubmit, pihak jurusan yang akan memilih kita mendapatkan topik yang mana berdasarkan preference kita.

Beruntungnya saya mendapatkan topik pilihan pertama saya, padahal tidak semua orang mendapatkan pilihan pertamanya. Saya akan dibimbing oleh Prof. Peter Blatchford. Beliau adalah salah satu dosen yang mengajar mata kuliah Psikologi Pendidikan dan sangat fokus di topik class size effectiveness, teaching assistant dan breaktime effectiveness. Awalnya Prof. Peter bukanlah prioritas pertama saya, tapi setelah berdiskusi dengan beliau, saya melihat Profesor satu ini sangat mendalami topik ini, terbuka, dan memberikan saya banyak feedback. Dan kemudian saya tahu ternyata Prof. Peter sedang melakukan longitudinal research di bidang ini dan juga merupakan ketua dewan etik psikologi di UCL, jadi... termasuk supervisor yang sangat sibuk.

Bahkan untuk pertemuan pertama saja beliau minta dilakukan lewat telpon, ini bikin saya galau. Dengan kemampuan bahasa saya yang sangat terbatas, membahas topik berat di telpon itu butuh extra pertolongan. haha. Saat saya email beliau menanyakan saya terpilih di topik yang mana (karena saya mengajukan 2 topik dari topik-topik beliau), Prof. Peter bilang saya boleh pilih yang mana saja dan bertanya apa saya sudah punya ide atau gambaran disertasi saya akan seperti apa. Ini saya gak berani balas karena saya masih nge-blank :(

Besoknya ada email masuk dari Prof. Peter, saya sudah deg-degan takut dimarahin karena belum balas email terakhir beliau. Lol. Tapi ternyata Prof. Peter menawarkan saya untuk membantu dan berpartisipasi di International conference tentang class size effectiveness yang beliau adakan minggu depan di London. Saya speechless!. Terlebih saat membaca nama-nama peserta conference yang notabene Profesor dari universitas ternama dan peserta yang hanya dibatasi 40-50 partisipan saja. Prof. Peter bilang saya boleh ikut berdiskusi bahkan memberikan presentasi. Ah, saya sudah cukup bersyukur diperbolehkan untuk berpartisipasi, gak muluk-muluk presentasi, karena saya juga masih dikit ilmunya, gak ngerti apa-apa. hiks.

Saya terharu sekali dan sangat-sangat bersyukur. Di satu sisi ini bikin saya malu sih, saya merasa Allah baik sekali pada saya padahal saya masih banyak nakalnya, masih banyak maunya, sering malas dan suka lupa bersyukur.

Setiap kali ingat ada banyak sekali nikmat-nikmat, kebaikan-kebaikan, rezeki-rezeki terbaik yang saya tidak minta tapi dihadiahkan oleh Allah, saya sering jadi malu sendiri karena masih suka sedih untuk hal-hal yang saya minta tapi belum dikasi sama Allah. Saya bilangnya ke ka Pepo, "kita itu selalu diuji dengan hal-hal yang paling kita inginkan ya ka?"

Ka Pepo dengan santainya bilang, "makanya pura-pura gak ingin aja, biar cepat dikasi" muahahaha.

Ah, tapi kalau untuk hal-hal yang kita tidak duga-duga saja Allah pilihkan yang terbaik, apalagi untuk hal-hal yang sangat kita inginkan kan? Kasih sayang dan ampunan Allah itu sangat luas, melebihi kenakalan-kenakalan kita. Jadi, Allah pasti sudah menyimpan pilihan-pilihan terbaik-Nya untuk kita, Insha Allah :)

Kali ini video yang saya buat cukup panjang. Humm... maksudnya lebih panjang dari yang sebelumnya, yaitu 2 menit. haha. Setidaknya saya ada kemajuan kan :P

Walaupun isinya sangat ala-ala dan kualitas videonya juga ala-ala karena saya ambil dari kamera HP dan kebanyakan diambil sambil lewat bahkan ada yang sambil lari-lari. haha. Yang penting kan saya latihan bikin video dan usaha dulu buat meraih cita-cita jadi Vloggers :P




P.s. Saya mulai merasa bahwa menjadi Vloggers adalah cita-cita musiman saya yang sebentar lagi akan segera berganti musim. haha



Semoga Bermanfaat,
Penggenggam Hujan



Minggu, 27 November 2016

Birmingham

Assalamualaikum Bloggers!

Minggu lalu saya dan ka Pepo memutuskan untuk jalan-jalan ke Birmingham, salah satu kota di Inggris Raya yang dikenal sebagai kota Industri. Birmingham juga merupakan kota terbesar dan paling padat penduduknya setelah London. Oh ya, paling banyak jumlah penduduk muslim nya juga.

Perjalanan London - Birmingham memakan waktu sekitar 2.5 - 3 jam dengan kereta. Kita berangkat dengan Chiltern Railways dan pulang dengan London Midland Railways. Harga tiket bervariasi tergantung kereta yang dipilih dan jam keberangkatan, biasanya harga tiket akan naik di jam-jam sibuk. Umumnya harga tiket kereta London - Birmingham bekisar antara £20 - £30, tapi jika kita membeli tiket jauh-jauh hari harga akan semakin murah. Selain itu juga akan mendapat potongan sampai 30% jika kita mempunyai National Rail Card. Waktu itu saya mendapat tiket pulang-pergi seharga £15 dengan potongan national rail card. Ini termasuk gak murah karena saya membeli tiket H-2 keberangkatan. Ada teman saya yang membeli tiket sebulan sebelum keberangkatan mendapat tiket seharga £8 saja. Humm...

Kita sampai di Birmingham sekitar pukul 6 sore dan langsung berkeliling kota (halah! :D). Di sana kita bertemu dengan Mafaza (mahasiswi psikologi dari Lancaster), tuan rumah Nisa yang super baik (mahasiswi farmasi di Birmingham) dan temannya Rizal (mahasiswa dari Manchester). Karena tahu perut tamu-tamunya ini bunyi-bunyi terus, Nisa langsung nganterin kita ke restoran all-you-can-eat halal yang saya lupa namanya. haha. Kabar baiknya kita hanya perlu membayar £5 untuk bisa makan sepuasnya. Ini murah sekali, di London saya belum menemukan restoran yang berbaik hati yang menyajikan makan malam yang sangat proper seharga £5. Makanannya juga enak dan bervariasi, mulai dari ikan, ayam, kambing, sapi sampai kepiting, dari salad sampai olahan sayur lainnya, mulai dari nasi, kentang, sampai hummus, ada berbagai macam buah-buahan dan pizza nya sangat reccomended!. Tapi untuk minuman kita harus beli terpisah dan menurut saya ini tetap tergolong good deal!

Selesai makan kita lanjut berkeliling dan berjalan menyusuri canal. Ada juga German Christmas Market yang cukup besar dan ramai dikunjungi orang-orang. German Christmas Market ini seperti versi Ramadhan Fair kalau di Indonesia. Dibuka menjelang natal dan tahun baru. Makanan yang dijual kebanyakan makanan khas Jerman, aksesoris natal, beer dan churros. Makanya gak heran orang-orang jalan sambil membawa gelas super besar berisi beer. Antrian membeli beer juga yang paling panjang. Saya gak yakin sih ini ada hubungannya atau tidak, tapi baru di sini saya menemukan banyak sekali orang yang hobi photobomb atau tiba-tiba minta ikutan foto pas kita sedang foto-foto. Lol. Mereka rata-rata sedang minum beer sih pas lari-lari ke arah kita sambil bilang, "wait... wait... let me in! let me in!" Duh, gak ngerti ini demi apa :D


Besok paginya kita keliling kampus dan menghadiri kegiatan pengajian yang diadakan oleh PPI Birmingham dan KIBAR yang mengundang Yusuf Mansur sebagai pembicara. Cuaca hari itu kurang bersahabat karena hujan dan cukup dingin, jadi tidak banyak yang bisa saya explore dari Birmingham. Selain itu waktunya juga terbatas sekali karena sorenya saya dan ka Pepo harus kembali ke London.

Humm.. karena saya sedang merintis karir di dunia Vlog tapi versi ala-ala, nih saya bagikan juga video perjalanan saya ke Birmingham. Jangan salah, ini saya curang kok bikinnya pakai aplikasi. hahaha.






P.s. Ternyata salah satu manfaat menghapus aplikasi Facebook dan Instagram di handphone adalah saya jadi rajin menulis di blog bahkan sempat-sempatnya bikin video. muahaha :P



Semoga Bermanfaat,
Penggenggam Hujan


Sabtu, 26 November 2016

London dan Black Friday

Assalamualaikum Bloggers!

Saya sedang belajar membuat video ala-ala. Cita-citanya sih ingin melebarkan sayap ke dunia Vloggers. hahaha. Tapi sepertinya level kerajinan saya belum memungkinkan. Membuat video 33 detik ini saja, saya merasa seperti sudah mengerahkan seluruh daya dan upaya yang saya punya. Ini adalah project video ketiga saya, sedangkan dua project video sebelumnya sukses terbengkalai :P

Jadi, hari Jumat tanggal 25 November yang lalu bertepatan dengan Black Friday. Di US umumnya Black Friday ini sangat dinanti-nanti sekali karena hampir di semua toko memberikan diskon besar-besaran. Sehingga tidak jarang calon pembeli rela tidur di depan toko atau mengantri panjang untuk berbelanja saat Black Friday. Nah lalu bagaimana dengan London?

Karena penasaran, saya dan Rinda memutuskan untuk melihat langsung kondisi Black Friday di London (hah alasan! :P). Kami memulai perjalanan dengan menyusuri Oxford St dan Regent St. Dua tempat ini merupakan pusat perbelanjaan yang selalu dipenuhi umat manusia di kota London. Hari itu sama seperti hari-hari lainnya, ada banyak sekali orang di sana, mungkin bedanya ada lebih banyak orang-orang yang membawa koper sebagai "kantong belanjaan".

Tapi ternyata London tidak begitu merayakan Black Friday, karena budaya Black Friday itu sendiri berasal dari US. Bahkan sewaktu di kereta, nenek-nenek di samping saya bilang begini ke temannya, "Black Friday? I've never heard of that before, I don't think we had that last year".

Tidak semua toko memberikan diskon besar-besaran. Hanya segelintir toko yang memberikan diskon 40-50% itupun selected item bahkan beberapa toko sama sekali tidak ada diskon. Kebanyakan toko hanya memberikan diskon 20-30% yang menurut mahasiswa seperti saya masih mahal. Apalagi kalo saya mulai merupiahkan, harganya langsung berubah dari harga yang "masih mahal" menjadi harga yang "tidak masuk akal". haha. Tapi ini sangat subjektif sekali, karena saya pribadi tidak terbiasa membeli barang-barang branded. Saya lebih memprioritaskan fungsi, humm.. tapi kalau sudah suka tetap saya beli sih. muahahaha. Yes, jika dibandingkan dengan harga normal, harga saat Black Friday sudah terhitung lebih murah.

Selesai berkeliling, kita singgah di SAID Dal Cafe, salah satu restoran cokelat yang cukup terkenal di London. Cokelat panasnya enak sekali dan bikin kenyang padahal yang saya pesan adalah ukuran medium. Selepas maghrib kita berdua menuju Knightsbridge untuk melihat lampu-lampu di sekitar Harrods. Harrods adalah departemen store yang high-end di London. Berdasarkan analisis terbatas saya, mungkin pangsa pasarnya adalah raja-raja Arab dan kerabatnya. Haha. Karena nuansa Timur Tengah kental sekali begitu kita memasuki Harrods. Selain itu, kalau saya tidak salah ada patung memorial Lady Diana dan Dodi Fayed di sini. Sayangnya saya dan Rinda tidak punya waktu lagi untuk berkeliling.

Jadi ini adalah video blog pertama saya, maafin karena masih amatirrrr :)






Semoga Bermanfaat,
Penggenggam Hujan

Jumat, 11 November 2016

Assalamualaikum London! #2


Katakanlah (Muhammad), "Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman"
(Q.S. At-Taubah: 51)



Assalamualaikum London!

Dua purnama lebih sudah, dua purnama lebih sudah saya berada di London. Lol. Yes, saya tahu... di tulisan pertama saya tentang London, saya mendapat banyak komentar tentang pilihan kalimat pembuka tulisan saya ini. Seorang sofi menghitung purnama? hufft... padahal ini hanya lucu-lucuan yang random dan menurut saya... could be a good hook :P tapi ternyata saya disalah-pahami sedang galau, segalau Cinta dan Rangga. Ah sudahlah *lari ke hutan*

Dua minggu terakhir suhu di London turun sekali. Anehnya sekarang kalau suhu jadi 8 derajat celcius saya sudah merasa itu okay, mungkin karena belakangan suhu rata-rata bekisar 5 derajat celcius bahkan pernah 0 derajat celcius. Jadi gitu naik ke 8, rasanya gak dingin lagi. Padahal di minggu-minggu pertama, sewaktu suhu ngedrop ke 15 derajat celcius saja, saya sudah merasa beku dan pengen bawa selimut duvet kemana-mana :P

Okay, di episode kali ini (etdaahh...) saya akan berbagi tentang kehidupan kampus dan fasilitas kesehatan di London

Kehidupan Kampus
Saya kuliah di University College London dan ternyata UCL ini luas sekali. Gedung perkuliahannya tersebar di sepanjang Gower street dan Bloomsbury, bercampur dengan hotel, mall, flat, dan gedung-gedung kampus University of London lainnya. Bahkan dari gedung perkuliahan saya ke Main Building saja memakan waktu 20 menit jalan kaki (ukuran kecepatan jalan kaki orang Indonesia :P). Saya pernah skip kelas writing karena kelamaan nyasar nyari gedungnya dimana. Yes I'm an awful map reader :P Untungnya itu cuma semacam kelas kursus tambahan.

Tapi pernah juga di salah satu kelas wajib, saya panik karena saya datang ke kampus mepet sekali dengan jam mulai kuliah dan sewaktu keluar dari stasiun tube saya baru cek Moodle untuk kelas hari itu yang ternyata di Birkbeck, University of London. bahahaha. Itu dimana aja saya gak tahu, yaudah saya cuma bisa baca peta dengan penuh air mata. Untung nyasarnya gak lama. hufft.

Dua bulan kuliah, saya masih belum dalam kondisi study-mode, saya masih roaming dan mudah ter-distract sama hal-hal yang mungkin penting tapi tidak mendesak. Misalnya, facebook-an atau nge-scroll instagram. Haha. Belum lagi setiap teman saya bertanya, "sof, hari ini kelas jam berapa?" "udah selesai tugas ini belum?". Saya cuma mampu jawab, "Duh gak tahu, belum cek Moodle" atau "Oh kita ada tugas yah!". Sedih sih, makanya demi keberlangsungan hidup saya sebagai pelajar yang sudah lupa bagaimana menjadi pelajar, saya menghapus semua aplikasi medsos di handphone saya. Walaupun setelah saya pikir-pikir lagi bukan itu inti masalahnya. Ah No worries, I'll be back soon! after getting back into study mode! humm... next year maybe :P (Btw, blog bukan termasuk sosmed kan ya? lalalala..)

Hal lain yang menurut saya cukup menarik yaitu budaya 'merdeka' mahasiswa di sini. Saya tidak tahu apa ini berlaku untuk mahasiswa Undergraduate juga, tapi di kelas saya, mahasiswa diperlakukan seperti orang 'dewasa' dan dituntut untuk mandiri. Dosen tidak pernah mengecek satu per-satu kita sudah baca reading list atau tidak, sudah bikin pe er atau tidak, jika mau dapat feed back yah kita kumpul lah itu tugas, jika tidak yaudah diem aja. Karena nilai akhir hanya berdasarkan final assignment yang tertulis di module handbook, biasanya berupa essay atau written exam. Tugas-tugas lainnya hanya bersifat sukarela, tidak mempengaruhi nilai akhir dan dikerjakan untuk memperdalam ilmu saja. Tentunya semakin sering mengerjakan tugas sukarela, semakin banyak mendapat feed back, semakin baik tugas akhir nantinya dan semakin mendalam ilmu yang di dapat.

Tapi jangan salah paham dulu, UCL punya standar yang tinggi sekali dalam penilaian. Jadi mau gak mau harus belajar dan banyak membaca. Nilai C saja jika dikonversi ke IPK skala 4 sudah setara dengan IPK 3.00 - 3.40 dan nilai yang paling rendah adalah D (fail). Jadi bisa bayangkan kan bagaimana kerasnya usaha yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan nilai B apalagi A. Untuk kehadiran, selama 1 semester saya hanya boleh gak datang sekali, atau kalau berani gak datang dua kali saya gak boleh submit essay atau ikut ujian akhir dan berakhir mendapat nilai D dan gagal. Karena sekali lagi, nilai di UCL hanya berdasarkan tugas akhir saja.

Tapi uniknya rata-rata dosen di sini sangat mentoleransi keterlambatan, saya sering melihat beberapa teman yang datang setengah jam setelah kelas di mulai, dosennya dengan santai bilang "come in!". Tapi jika dosen masih ngasi kuliah padahal jam kuliah udah selesai semenit yang lalu, mahasiswanya bisa dengan santai berdiri, beres-beres, pakai jaket, dan langsung keluar kelas; pulang. Bagi orang sini, hal ini gak salah dan dosennya sama sekali gak keberatan. Tapi kok saya jadi sedih ya. huhu.

Selain itu juga gak masalah jika sewaktu kuliah berlangsung kita keluar kelas untuk beberapa puluh menit. Kebetulan jam kuliah saya di mulai sebelum maghrib dan selesai setelah masuk waktu isya, jadi saya sering kabur untuk sholat maghrib. Teman-teman yang lain juga ada yang ngacir untuk sekedar membeli kopi atau kudapan, tapi setelah itu balik lagi. Meskipun banyak kebebasan, mahasiswa di sini tetap giat sekali belajar dan banyak yang sangat ambisius. Duh, bikin saya makin insecure, haha. Mungkin karena masuk ke sini juga gak mudah dan biayanya mahal jadi semua orang seperti tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar sebanyak-banyaknya.

Hal lainnya yang menarik dari sistem perkuliahan di sini, yaitu kemudahan akses terhadap materi dan bahan ajar. Seminggu sebelum pertemuan berlangsung, semua materi seperti reading list dan detail tugas biasanya diunggah di portal mahasiswa (red. Moodle). Jadi sebelum kuliah saya sudah mendapat gambaran tentang metode perkuliahan dan diskusi kelompok apa saja yang akan diberikan hari itu.

Dengan sistem seperti ini, lagi-lagi membuat kita mau tidak mau harus belajar dan membaca semua reading list karena saat kuliah dosen tidak akan membahas dari awal tapi langsung bertanya bagian mana yang belum kita mengerti dan membahas hal lainnya yang menurutnya penting dan belum tercantum di bahan ajar yang sudah diunggah sebelumnya. Pernah sekali, saya tidak membaca satupun reading list yang diberikan dan saat kuliah berlangsung saya berakhir menjadi tidak nyambung, roaming, dan merasa seperti sedang tersesat di planet mars. mengenaskan. hahah

Perpustakaan di sini punya banyak sekali koleksi buku dan setiap mahasiswa bisa mengakses jurnal-jurnal berbayar secara gratis. Semua fasilitas di perpustakaan bersifat self-service dan online. Jadi kalau mau meminjam atau mengembalikan buku, kita harus scan barcode sendiri di komputer yang tersedia. Menariknya kita bisa memperpanjang buku yang dipinjam secara online dan selalu menerima email notifikasi kalau waktu batas pengembalian buku sudah dekat. Tapi denda keterlambatan pengembalian buku di sini cukup mahal, terlambat sehari bayar £2. huhu.

UCL juga terkenal sebagai kampus volunteering. Ada banyak sekali kegiatan volunteering yang bisa diikuti mahasiswanya. Mulai dari kegiatan volunteering yang bersifat akademik, keagamaan dan kebangsaan, vokasional, sampai yang bersifat sosial, semua ada. Bahkan mahasiswa pecinta cokelat saja ada komunitas resminya. unik yah. Saya sendiri baru bergabung di ISOC, sebuah komunitas mahasiwa muslim di UCL.

Kegiatan volunteering pertama yang saya ikuti yaitu visiting elderly alias berkunjung ke panti jompo. Di sana saya banyak ngobrol dengan para granny dan granpa, tujuan kegiatannnya supaya mereka tidak terlalu kesepian. Lucunya, ada satu nenek yang sudah tidak nyambung lagi kalau diajak ngobrol, tapi pas ditanya suka dance atau gak, neneknya malah nyambung dan ngajakin nge-dance. Duh, salah nanya. haha. Sewaktu saya di sana, saya diberitahu kalau kebanyakan mereka sudah tidak punya keluarga lagi. Jadi perawatnya bilang, kalo bisa kita tetap datang lagi meskipun cuma 5 menit buat ngobrol dengan mereka.

Sejauh ini saya nyaman sekali kuliah di UCL, meskipun ada beberapa hal yang membuat saya insecure dan tidak berani main-main. Yes, kuliah di kampus yang katanya peringkat ke-7 dunia, peringkat ke-3 Se-Inggris Raya, dan peringkat ke-1 di dunia untuk bidang pendidikan memang bukanlah hal yang main-main. Berat banget inih pundak saya. Lol. Insha Allah... Mohon doanya yaaaa :')


Fasilitas Kesehatan
Bagi mahasiswa yang waktu kuliahnya lebih dari 6 bulan diharuskan untuk membeli asuransi kesehatan. Di UK sendiri fasilitas kesehatan sudah sangat terintegrasi atau dikenal dengan NHS. Setiap orang akan terdaftar di GP (General Practitioner) di klinik terdekat. Di UK, GP ini seperti garda terdepan yang menyaring tindak lanjut perawatan pasien apakah harus direfer ke rumah sakit atau cukup rawat jalan saja.

Jika sudah terdaftar NHS kita tidak dipungut biaya lagi saat berobat. Semua biaya pengobatan gratis kecuali pengobatan mata dan gigi. Pengobatan mata dan gigi di sini menurut saya masih cukup affordable jika dibandingkan dengan US atau Australia. Tapi tetep saja jangan di rupiahin yah :P

Berbeda dengan Indonesia, Kalau mau periksa ke dokter harus bikin appointment dulu dan biasanya jadwal yang available itu 1-2 minggu setelah kita bikin appointment. Duh, keburu sembuh yah. haha. Tapi kalau kasusnya darurat kita bisa langsung ke rumah sakit dan diperiksa di emergency unit. Pilihan lainnya bisa datang tanpa appointment ke Walk-in Center yang biasanya dibuka setiap weekend di beberapa klinik.

Nah, minggu kedua di London saya tiba-tiba sakit. Padahal siangnya masih ikutan acara piknik dari ISOC. Mungkin karena udara dingin, saya sama sekali tidak sadar kalau ternyata saya demam tinggi sampai teman saya, ka Pepo yang bilang, "sofi kamu ini demam panas banget". Yauda saya langsung minum paracetamol aja.

Besok paginya demam saya sudah turun, tapi badan saya masih gak enakan. Hari itu saya harus ke kampus untuk mengurus enrolment. Siangnya pas keluar rumah, begitu buka pintu saya langsung disambut angin dingin kenceng banget. Begitu turun dari bus, saya jalan pelan-pelan menuju stasiun karena tiba-tiba badan saya semakin gak enakan, padahal saya sudah tidak demam.

Mana matahari silau sekali dan anehnya, semakin lama sinar mataharinya semakin silau dan silau. Sempat kepikiran sih, apa ini tanda-tanda mau pingsan ya? soalnya kan saya belum pernah pingsan. Duh tapi kalau beneran pingsan kira-kira bakal ada yang nolongin gak ya, atau saya bakal dijahatin gak ya. Saya sibuk banget mikir ke sana dan ke sini sampai akhirnya saya tiba-tiba sudah dipanggil-panggil saja sama ibu-ibu dan nenek-nenek yang bilang, "darling, can you hear me?" "darling, are you okay?". Yes, saya beneran pingsan (please don't tell my mom! I told her everything but this part :D)

Ibu-ibu dan nenek-nenek yang baik hati ini bantuin saya berdiri, tapi tetep aja kondisi saya waktu itu masih belum bisa melihat apa-apa. Saya sadar, tapi pandangan saya masih putih. Duh, waktu itu saya takut sekali dan pengen nangis. Saya dibantu jalan ke dalam stasiun. Terus saya di suruh duduk dan di kasi minum sama petugas stasiunnya. Pelan-pelan saya bisa melihat dengan jelas lagi. Di sekeliling saya ada ibu-ibu dan nenek-nenek yang nolongin saya, dan 3 orang petugas stasiun. Saya langsung ditanya-tanya sama petugas stasiunnya. Apa mau diantar ke rumah sakit or gimana? Saya bilang saya pulang ke rumah aja, karena rumah saya dekat dari sini. Akhirnya petugas stasiunnya nge-checkin jadwal bus yang lewat dan nganterin saya ke bus stop.

Saya bersyukur sekali sama Allah karena ada orang-orang baik yang nolongin saya. Teman-teman serumah juga panik gitu tahu saya pingsan di jalan. Besoknya saya langsung ke rumah sakit ditemani ka Pepo dan karena weekend saya diperiksa di emergency unit. Ka Pepo sumringah sekali menemani saya ke rumah sakit. Ka Pepo bilang, rumah sakit itu tempat favorite semua mahasiswa farmasi klinis. hufftt... -_-

Selama di emergency unit, saya diinfus, diambil sampel darah dan urin, dironsen, dan organ-organ penting saya dimonitor. Padahal keluhan saya hanya demam dan batuk. Saya sampai bilang ke ka Pepo, "am I dying ka?" ka Pepo cuma geleng-geleng kepala aja. Apalagi sewaktu tahu saya berasal dari negara tropis, darah saya diambil berkali-kali untuk tes malaria, DBD, dan penyakit tropis lainnya. Tapi kabar baiknya, dokter dan perawatnya baik-baik sekali, ganteng-ganteng juga. hahahaha.

Karena panas saya belum turun juga padahal sudah diinfus, saya gak dibolehin pulang dan harus diopname. Mana di sini kalau di opname gak boleh ditemani lagi. Kalau di Indonesia, kita masih bisa bandel sama dokternya, tapi kalau di sini gak bisa. Patuh sama dokter atau tanda-tangani surat self-discharge, yang artinya kalau terjadi apa-apa mereka akan lepas tangan. Yaudah, saya nurut aja.

Besoknya demam saya sudah turun alhamdulillah, tapi masih belum boleh pulang karena heart rate saya masih kencang. Saya dirawat di Acute Assessment Unit (AAU), dan ditangani langsung oleh kepala dokter yang kebetulan muslim. Disini sedikit berbeda, perawatnya berseragam sedangkan dokternya berpakaian bebas. Dokter yang menangani saya saja pakai jubah thobe arab.

Ada satu perawat asal Filipina, Ester, yang baik sekali sama saya. Menurut Ester, Filipina dan Indonesia itu tetangga, jadi seharusnya sudah seperti saudara sendiri. Pertama masuk AAU, Ester yang menawarkan saya pakai piyama pasien cowok saja, karena kalau gown pasien yang perempuan saya pasti gak mau pakai katanya soalnya pendek dan terbuka. Pas pagi juga saya dibawakan piyama dan kaus kaki ganti yang bersih plus air hangat yang sudah dicampur sabun lengkap dengan handuk kecil untuk cuci muka. Baik banget... padahal saya kuat-kuat aja bolak-balik ke toilet. Terus juga suka ngasi saya nasehat, ngecekin jadwal pengobatan saya, dan menjelaskan kenapa dokter belum memperbolehkan saya pulang. Saya memang minta pulang terus, karena senin nya adalah hari pertama kuliah, walaupun hanya kelas perkenalan (Induction). Ester bilang, "Shofia, your study can wait, but your health can't".

Pelayanan kesehatan di sini cukup baik sekali dan dokter tidak dengan mudah memberi obat terutama antibiotik. Setelah diinfus saya diminta banyak istirahat dan banyak minum air putih supaya heart rate saya normal. Tapi anehnya masih kencang juga gak tahu kenapa. Saya sih ngelesnya mungkin karena ini pertama kalinya saya diopname di rumah sakit, saya jauh dari rumah dan cemas kalau saya harus skip kelas pertama saya hari selasa besoknya. Dokternya sampai bilang, "shofia, relax. Don't think too much, okay". Gimana caranya... saya nervous setengah mati tidur sendirian di rumah sakit. lol. Di hari ketiga akhirnya dokter memberi saya izin pulang dengan syarat saya harus diinfus 1 botol lagi dan harus ke rumah sakit lagi 5 hari kemudian untuk pemeriksaan akhir. Alhamdulillah.

Di rumah sakit tempat saya di rawat terdapat pilihan menu halal. Jadi setiap pagi, mba-mba dari bagian dapurnya pasti keliling bawa Ipad nanyain setiap pasien mau makan apa untuk siang dan malam. Beberapa pilihan menu halal misalnya Rice and Chicken/Beef/Lamb Masala atau Rice and Chicken/Beef/Lamb Korma, dan beberapa menu lainnya saya lupa. Trus ada tambahan lainnya seperti Ice cream, yogurt, orange juice dan buah-buahan. Kalau pagi disediakan sereal atau bubur. Pas sore juga di kasi pilihan minuman, ada kopi, susu, hot chocolate atau teh. Kalau malamnya masih kelaparan lagi kita bisa minta sandwhich. Teman saya bilang, "enak banget lo dapat makan gratis, halal lagi" hahaha.

Selama 3 hari di rumah sakit, saya berterima kasih sekali dengan teman-teman serumah; Madam Pepo, Teteh Rinda, Frozen Ana, Gadis paling rapi se-Tottenhall Icus dan Ibu Negara Ine yang bergantian datang menemani saya selama jam besuk. Oh iya jam besuk di sini antara jam 10.00 pagi sampai jam 08.00 malam. Bukankah teman-teman yang baik itu juga termasuk rezeki dari Allah? ah, saya beruntung sekali alhamdulillah. Meskipun teman-teman saya ini banyak modusnya datang ke rumah sakit. Misalnya, "Sof, butuh air minum lagi ga? sini aku mintain sama abang-abang perawatnya" atau "Sof, bermasalah ga infusnya? atau perlu aku panggilin abang-abang perawatnya?" hahah.

Btw, tinggal di London juga bikin kita mesti belajar supaya gak mudah baperan. Orang-orang di sini tuh suka sekali bilang darling, love, sweet heart. Selama di rumah sakit ini saja misalnya, abang-abang perawatnya sering lewat terus nanya, "are you okay, love?" "do you need anything, darling?". Dan abang-abang di sini tuh ala-ala Mr. Darcy semua. hufft... bikin baper :P

P.S. Bahkan setiap saya ke supermarket buat beli ayam aja, saya manggil penjual gini "excuse me..." eh abang-abang turkinya langsung nyahut, "yes darling?" muahaha.. kan bikin gak konsen :P


Mungkin Bersambung...


Semoga Bermanfaat,
Penggenggam Hujan